SILSILAH ( NASAB ) RADEN FATAH

1. Bin Sang Nabi Adam AS
2. Bin Sang Nabi Sis AS
3. Bin Sang Yang Nurcaya
4. Bin Sang Yang Nurasa
5. Bin Sang Yang Wenang
6. Bin Sang Yang Wining
7. Bin Sang Yang Tunggal
8. Bin Yang Guru
9. Bin Yang Wisnu
10. Bin Yang Srikati
11. Bin Yang Terustili
12. Bin Yang Marigenah
13. Bin Yang Manonmanasa
14. Bin Yang Suta Pa
15. Bin Yang Sakutrem
16. Bin yang Sakri
17. Bin Yang Palasara
18. Bin Yang Abiyasa
19. Bin Yang Pandu
20. Bin Yang Ardjuna
21. Bin Yang Angkawidjaya
22. Bin Yang Parikesit
23. Bin Yang Udayanah
24. Bin Yang Djayadarma
25. Bin Yang Djayaamidjaya
26. Bin Yang Gendrayana
27. Bin Yang Sumawitjitra
28. Bin Yang Tjitakusuma
29. Bin Yang Pantjadriya
30. Bin yang Seladjalu
31. Bin Yang Srimapanggung
32. Bin Yang Gendiawan
33. Bin Yang Resigentayu
34. Bin Yang Lembuamiluhur
35. Bin Yang Tebu
36. Bin Raden Rawis Rengga Djenggala
37. Bin Ratu Laila Bandjaran
38. Bin Mundisari Padjadjaran
39. Bin Mundiwangi Padjadjaran
40. Bin Raden Sesuruh Madjalengka
41. Bin Karta Widjaya Madjapahit
42. Raden Fatah
Iklan
Dipublikasi di K A W E R U H | Meninggalkan komentar

Investigasi Tim Densus 99 Sarkub Terhadap Mahrus Ali

Investigasi Tim Densus 99 Sarkub Terhadap Mahrus 
Investigasi Tim Densus 99 Sarkub Terhadap Mahrus Ali Beredarnya buku-buku tulisan H. Mahrus Ali di berbagai tempat di wilayah Indonesia benar-benar sangat meresahkan ummat Islam. Otomatis itu menjadikan fitnah besar bagi kaum Nahdhiyyin dan bisa mengancam persatuan dan kesatuan ummat Islam di Indonesia, bahkan bisa mengancam eksistensi Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang menganut ideologi Pancasila dan berazaskan Undang-undang Dasar 1945. Atas dasar itu, Tim Sarkub bersama kawan-kawan yang tergabung dalam group “SARKUBIYAH” melakukan silaturrahim ke rumah kediaman H. Mahrus Ali di Tambakwaru Sidoarjo, Surabaya – Jawa Timur untuk meminta penjelasan langsung mengenai buku-buku tulisannya yang meresahkan masyarakat dan menyesatkan itu.

 Senin Wage, 22 November 2010 M/ 15 Dzulhijjah 1431 H menjadi hari bersejarah bagi Tim Sarkub. Di hari itulah mereka memulai perjalanan untuk ‘menginvestigasi” H. Mahrus Ali, pengarang buku-buku yang menyudutkan NU, di kediamannya di Tambaksumur waru Sidoarjo – Jawa Timur. Sebe lum menuju rumahnya H. Mahrus Ali (yang ngaku2 Mantan Kiai NU), mereka berlima silaturrahim terlebih dahulu ke rumah keponakannya yang bernama H. Mahmud alumni pesantren Langitan untuk berbincang-bincang sebentar sambil mengemukakan maksud dan tujuan kedatangan baik kami ke sana. Karena, rumahnya H. Mahmud terletak pas berada di gang yang mau menuju rumahnya H. Mahrus Ali. Tentunya tidaklahh sopan apabila melewati rumahnya begitu saja.

Dalam silaturrahim itu mereka mendapat gambaran tentang ajaran yang dianut oleh Mahrus Ali, bahkan mereka mendapat informasi bahwa Mahrus Ali itu mengharamkan makan daging ayam dikarenakan ayam mempunyai cakar. Begitupula, Mahrus Ali mengharamkan makan tahu dengan alasan tahu itu mengandung cuka.

 Setelah bersilaturrahim kemudian mereka menuju langsung ke rumahnya Mahrus Ali untuk bersilaturrahim dan ingin menanyakan langsung tentang penggunaan istilah “Mantan Kiai NU” dalam setiap karangannya. Alhamdulillah berkat anugerah Allah swt mereka bisa menemui dia dengan begitu mudahnya. Padahal menurut informasi yang didapatkan di masyarakatnya bahwa dia itu sulit sekali ditemuinya terutama dengan orang yang tidak sepaham dengannya. Bahkan ibu kandungnya sendiri ketika sakit keras, dia (Mahrus Ali) tidak mau menemuinya dengan alasan tidak sepaham dengannya. Dalam silaturrahim itu Tim Sarkub sempat berdialog langsung dengannya dan alhamdulillah mereka berhasil membongkar kebohongan dan kebusukan Mahrus Ali yang menganut paham Wahhabi beserta penerbit buku-buku karangannya, yang telah menghina dan melecehkan NU.

Dengan demikian, mereka sudah sepantasnya diseret ke pengadilan untuk diadili dan mendapatkan hukuman yang setimpal sesuai dengan perbuatan mereka. Mereka sempat mengambil foto secara rahasia lewat hp untuk dijadikan sebagai data dan bukti yang valid. Karena, H. Mahrus Ali tidak mau difoto dan menghukumi haram masalah foto. Begitupula, mereka sempat berdialog dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Mahrus Ali termasuk masalah penggunaan istilah “Mantan Kyai NU” di setiap buku karangannya. Ternyata dalam jawaban Mahrus Ali penggunaan istilah “Mantan Kiai NU” itu bukanlah dari kemauan H. Mahrus Ali (Wahhabi tulen) sendiri, tetapi istilah itu merupakan keinginan dan hasil rekayasa dari penerbit “Laa Tasyuk” yang menerbitkan buku-buku karangannya dengan tujuan agar buku-buku tersebut best seller di pasaran. Buku2 tersebut pada hakikatnya merupakan suatu pelecehan dan penghinaan terhadap eksistensi NU baik di forum nasional maupun internasional.

Dengan demikian, mereka meminta langsung kepada H Mahrus Ali dengan sejujurnya untuk membuat pernyataan mengenai istilah Mantan Kyai NU yang merupakan bukan pilihannya sendiri sebagai suatu klarifikasi agar tidak menjadi fitnah berkepanjangan di kemudian hari.

Kyai Thobary bersama Mahrus Ali di sampingnya yang sedang menulis Surat Pernyataan

. Inilah surat pernyataan Mahrus Ali yang sejujurnya kepada Kyai Thobary. Mahrus mengatakan bahwa penggunaan istilah “Mantan Kiai NU” bukan berasal dari dia sendiri. Tetapi itu merupakan pilihan dari pihak penerbit “Laa Tasyuk” yang terlalu dipaksakan demi untuk mengeruk keuntungan pribadi lewat buku2 tulisan Mahrus Ali yang diterbitkannya.

Untuk lebih jelasnya lagi kami salin kembali surat pernyataan Mahrus Ali di bawah ini:

MANTAN KYAI NU BUKAN PILIHAN SAYA 
DAN SAYA SUDAH BILANGKAN KEPADA WARTAWAN AULA, 
SAYA MINTA AGAR DIGANTI TAPI 
SAYA TIDAK MAMPU” 
TGL 15 DZULHIJJAH 1431 H WASSALAM MAHRUS 
Inilah scan surat pernyataan aslinya!!
Dipublikasi di K A W E R U H | Meninggalkan komentar

Bimo Suci

Bima atau werkudara adalah salah satu
tokoh dari Pandawa Lima dalam dunia
pewayangan, salah satu lakon dalam
“ kehidupan” adalah Dewa Ruci, banyak
makna atau ajaran filosofis yang terkandung
dalam cerita ini dan banyak manfaat untuk
kehidupan kita sehari-hari.
Dewa Ruci yang merupakan cerita asli
wayang Jawa memberikan gambaran yang
jelas mengenai hubungan harmonis antara
Kawula dan Gusti, yang diperagakan oleh
Bima atau Aria Werkudara dan Dewa Ruci.
Pencarian air suci Prawitasari
Guru Durna memberitahukan Bima untuk
menemukan air suci Prawitasari. Prawita
dari asal kata Pawita artinya bersih, suci;
sari artinya inti. Jadi Prawitasari
pengertiannya adalah inti atau sari dari
pada ilmu suci.
Hutan Tikbrasara dan Gunung Reksamuka
Air suci itu dikatakan berada dihutan
Tikbrasara, dilereng Gunung Reksamuka.
Tikbra artinya rasa prihatin; sara berarti
tajamnya pisau, ini melambangkan pelajaran
untuk mencapai lendeping cipta (tajamnya
cipta). Reksa berarti mamalihara atau
mengurusi; muka adalah wajah, jadi yang
dimaksud dengan Reksamuka dapat
diartikan: mencapai sari ilmu sejati melalui
samadi.
1. Sebelum melakukan samadi orang harus
membersihkan atau menyucikan badan dan
jiwanya dengan air.
2. Pada waktu samadi dia harus
memusatkan ciptanya dengan fokus
pandangan kepada pucuk hidung.
Terminologi mistis yang dipakai adalah
mendaki gunung Tursina, Tur berarti
gunung, sina berarti tempat artinya tempat
yang tinggi.
Pandangan atau paningal sangat penting
pada saat samadi. Seseorang yang
mendapatkan restu dzat yang suci, dia bisa
melihat kenyataan antara lain melalui
cahaya atau sinar yang datang kepadanya
waktu samadi. Dalam cerita wayang
digambarkan bahwasanya Resi
Manukmanasa dan Bengawan Sakutrem
bisa pergi ketempat suci melalui cahaya
suci.
Raksasa Rukmuka dan Rukmakala
Di hutan, Bima diserang oleh dua raksasa
yaitu Rukmuka dan Rukmala. Dalam
pertempuran yang hebat Bima berhasil
membunuh keduanya, ini berarti Bima
berhasil menyingkirkan halangan untuk
mencapai tujuan supaya samadinya
berhasil.
Rukmuka : Ruk berarti rusak, ini
melambangkan hambatan yang berasal dari
kemewahan makanan yang enak(kemukten)Rukmakala : Rukma berarti emas, kala
adalha bahaya, menggambarkan halangan
yang datang dari kemewahan kekayaan
material antara lain: pakaian, perhiasan
seperti emas permata dan lain-lain
(kamulyan)
Bima tidak akan mungkin melaksanakan
samadinya dengan sempurna yang
ditujukan kepada kesucian apabila
pikirannya masih dipenuhi oleh kamukten
dan kamulyan dalam kehidupan, karena
kamukten dan kamulyan akan menutupi
ciptanya yang jernih, terbunuhnya dua
raksasa tersebut dengan gamblang
menjelaskan bahwa Bima bisa menghapus
halangan-halangan tersebut.
Samudra dan Ular
Bima akhirnya tahu bahwa air suci itu tidak
ada di hutan , tetapi sebenarnya berada
didasar samudra. Tanpa ragu-ragu
sedikitpun dia menuju ke samudra. Ingatlah
kepada perkataan Samudra Pangaksama
yang berarti orang yang baik semestinya
memiliki hati seperti luasnya samudra, yang
dengan mudah akan memaafkan kesalahan
orang lain.
Ular adalah simbol dari kejahatan. Bima
membunuh ular tersebut dalam satu
pertarungan yang seru. Disini
menggambarkan bahwa dalam pencarian
untuk mendapatkan kenyataan sejati,
tidaklah cukup bagi Bima hanya
mengesampingkan kamukten dan kamulyan,
dia harus juga menghilangkan kejahatan
didalam hatinya. Untuk itu dia harus
mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
1. Rila: dia tidak susah apabila
kekayaannya berkurang dan tidak iri
kepada orang lain.
2. Legawa : harus selalu bersikap baik dan
benar.
3. Nrima : bersyukur menerima jalan hidup
dengan sadar.
4. Anoraga : rendah hati, dan apabila ada
orang yang berbuat jahat kepadanya, dia
tidak akan membalas, tetap sabar.
5. Eling : tahu mana yang benar dan salah
dan selalu akan berpihak kepada kebaikan
dan kebenaran.
6. Santosa : selalu beraa dijalan yang
benar, tidak pernah berhenti untuk berbuat
yang benar antara lain : melakukan samadi.
Selalu waspada untuk menghindari
perbuatan jahat.
7. Gembira : bukan berarti senang karena
bisa melaksanakan kehendak atau
napsunya, tetapi merasa tentram
melupakan kekecewaan dari pada kesalahan-kesalahan dari kerugian yang
terjadi pada masa lalu.
8. Rahayu : kehendak untuk selalu berbuat
baik demi kepentingan semua pihak.
9. Wilujengan : menjaga kesehatan, kalau
sakit diobati.
10. Marsudi kawruh : selalu mencari dan
mempelajari ilmu yang benar.
11. Samadi.
12. Ngurang-ngurangi: dengan antara lain
makan pada waktu sudah lapar, makan
tidak perlu banyak dan tidak harus memilih
makanan yang enak-enak: minum
secukupnya pada waktu sudah haus dan
tidak perlu harus memilih minuman yang
lezat; tidur pada waktu sudah mengantuk
dan tidak perlu harus tidur dikasur yang
tebal dan nyaman; tidak boleh terlalu sering
bercinta dan itu pun hanya boleh dilakukan
dengan pasangannya yang sah.
Pertemuan dengan Dewa Suksma Ruci
Sesudah Bima mebunuh ular dengan
menggunakan kuku Pancanaka, Bima
bertemu dengan Dewa kecil yaitu Dewa
Suksma Ruci yang rupanya persis seperti
dia. Bima memasuki raga Dewa Suksma
Ruci melalui telinganya yang sebelah kiri.
Didalam, Bima bisa melihat dengan jelas
seluruh jagad dan juga melihat dewa kecil
tersebut.
Pelajaran spiritual dari pertemuan ini
adalah :
Bima bermeditasi dengan benar, menutup
kedua matanya, mengatur pernapasannya,
memusatkan perhatiannya dengan cipta
hening dan rasa hening.
Kedatangan dari dewa Suksma Ruci adalah
pertanda suci, diterimanya samadi Bima
yaitu bersatunya kawula dan Gusti.
Didalam paningal (pandangan didalam)
Bima bisa melihat segalanya segalanya
terbuka untuknya (Tinarbuka) jelas dan
tidak ada rahasia lagi. Bima telah menerima
pelajaran terpenting dalam hidupnya yaitu
bahwa dalam dirinya yang terdalam, dia
adalah satu dengan yang suci, tak
terpisahkan. Dia telah mencapai kasunyatan
sejati. Pengalaman ini dalam istilah spiritual
disebut �mati dalam hidup� dan juga
disebut �hidup dalam mati�.
Bima tidak pernah merasakan kebahagiaan
seperti ini sebelumnya. Mula-mula di tidak
mau pergi tetapi kemudian dia sadar bahwa
dia harus tetap melaksanakan pekerjaan
dan kewajibannya, ketemu keluarganya dan
lain-lain.
Arti simbolis pakaian dan perhiasan Bima
Bima mengenakan pakaian dan perhiasan
yang dipakai oleh orang yang telah
mencapai kasunytan-kenyataan sejati.
Gelang Candrakirana dikenakan pada
lengan kiri dan kanannya. Candra artinya
bulan, kirana artinya sinar. Bima yang
sudah tinarbuka, sudah menguasai sinar
suci yang terang yang terdapat didalam
paningal.
Batik poleng : kain batik yang mempunyai 4
warna yaitu; merah, hitam, kuning dan
putih. Yang merupakan simbol nafsu,
amarah, alumah, supiah dan mutmainah.
Disini menggambarkan bahwa Bima sudah
mampu untuk mengendalikan nafsunya.
Tusuk konde besar dari kayu asem
Kata asem menunjukkan sengsem artinya
tertarik, Bima hanya tertarik kepada laku
untuk kesempurnaan hidup, dia tidak
tertarik kepada kekeyaan duniawi.
Tanda emas diantara mata.
Artiya Bima melaksanakan samadinya
secara teratur dan mantap.
Kuku Pancanaka
Bima mengepalkan tinjunya dari kedua
tangannya.
Melambangkan :
1. Dia telah memegang dengan kuat ilmu
sejati.
2. Persatuan orang-orang yang bermoral
baik adalah lebih kuat, dari persatuan
orang-orang yang tidak bertanggung jawab,
meskipun jumlah orang yang bermoral baik
itu kalah banyak.
Contohnya lima pandawa bisa mengalahkan
seratus korawa. Kuku pancanaka
menunjukkan magis dan wibawa seseorang
yang telah mencapai ilmu sejati.
Dipublikasi di Budoyo | Meninggalkan komentar

Gus Dur

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

Humor Guss Dur

Humor Gus Dur – Internet dan Kakek Tua


Kisah Humor ini berasal dari Ketua PBNU Said Aqil Siraj. Dulu, saat Internet baru marak di Indonesia, seseorang bertanya ke Gus Dur mengenai sah atau tidaknya menikah melalui Internet. Mendapat pertanyaan begitu, dengan ringan Gus Dur menjawab, “Menikah lewat Internet boleh, asal bertemunya juga di Internet saja, ciuman lewat Internet.”
Jawaban yang sederhana, kata Aqil, tapi mengandung makna dalam, yaitu tidak memperumit masalah. Kepada Aqil, Gus Dur juga pernah menceritakan humor tentang kesabaran. Dikisahkan tentang seorang pemuda gagah yang tengah berusaha memecahkan batu besar. Dicoba 50 pukulan, batu tak pecah. Dicoba 70 hingga 100 pukulan, batu tidak kunjung pecah. Lalu lewat seorang kakek tua renta, dipukulnya batu itu sebanyak lima kali. Eh, langsung pecah. Si pemuda bingung, pikirnya begitu sakti kakek ini. Tapi kakek itu cuma bilang, batu tersebut bisa pecah dengan 105 pukulan.
Mungkin pesan yang bisa dipetik dari kisah humor seorang pemuda dan kakek tua adalah kita jangan gampang menyerah dalam berusaha!

Sumber: http://forum.tempo.co/showthread.php?1663-Humor-Gusdur-Edisi-Bandara-Abdurrahman-Wahid-!!
Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar